Yogyakarta memang menjadi pusat tujuan pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dari daerah lain di Indonesia. Bukan hanya sekolah negeri saja yang menjadi incaran calon siswa yang datang, tetapi sekolah-sekolah swasta di Yogya-pun menjadi serbuan.
Sekolah-sekolah yang didirikan Departemen Agama (Depag)-pun ternyata mulai dilirik para orang tua dan calon siswa. Contohnya saja Madrasah Aliyah Negeri (MAN) III Yogyakarta. Madrasah yang berlokasi di Jl. Magelang Km. 4, Yogyakarta, setiap tahunnya selalu diserbu calon siswa dari luar daerah.
Kenyataan ini tidaklah mengherankan. Pasalnya sejak tahun 1998, sekolah yang telah menghasilkan banyak alumni termasuk Mendiknas Malik Fadjar ini ditetapkan sebagai sekolah model atau sekolah percontihan. Bahkan karena predikat tersebut, MAN III Yogya atau lebih dikenal dengan MAYOGA ini sering mendapat kunjungan rombongan dari sekolah lainnya. ""Mereka umumnya melakukan study banding ke sini, baik itu tentang lingkungan sekolah, kurikulum maupun manajemen sekolah yang kami terapkan,"" jelas Kepala Sekolah MAYOGA, Drs H Sukardi.
Predikat sekolah percontohan memang pantas disandang oleh Madrasah ini. Bukan saja prestasi yang membanggakan yang mampu dipersembahkan para siswanya, tetapi memang karena madrasah ini penuh dengan inovasi pendidikan dalam berbagai sektor. Bukan hanya pendidikan intelektual, tetapi juga pendidikan ketrampilan serta keagamaan.
Contohnya saja, untuk menghasilkan siswa yang unggul, madrasah ini terus mengembangkan kurikulum yang inovatif. Ketika beberapa waktu lalu berkunjung, Mendiknas Malik Fadjar menyebut kurikulum yang dikembangkan sekolah ini sebagai 'berani dan brilian'. Bagaimana tidak, sebab di madrasah ini kita dapat menjumpai beberapa mata pelajaran yang tidak lazim ditemui di sekolah pada umumnya. Misalnya, pelajaran pengembangan penalaran dan minat baca (PPMB), conversation, muhadatsah(percakapan bahasa Arab), pendidikan aplikasi komputer dan beberapa mata pelajaran lain. Selain itu pelajaran olah raga di madrasah ini tidak diberikan pada pagi hari, tetapi diberikan pada sore hari sesuai dengan minat siswa mengikuti cabang olah raga tertentu.
""Jadi siswa di sini bisa memilih cabang olah raga apa saja yang diminatinya. Kita tidak mewajibkan satu kelas mengikuti satu cabang olah raga, tetapi satu kelas, siswanya bisa pecah-pecah dalam mengikuti mata pelajaran olah raga ini, ""kata Sukardi, kepala sekolah yang hampir pensiun ini.
Inovasi lain yang tak kalah berani adalah adalah pemisahan antara siswa yang ingin hidup mandiri setelah lulus dan siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus. Pemisahan ini, menurut Sekretaris Eksekutif Tim Konsulatan MAYOGA RUA Zainal Fanani, dilakukan melalui angket. Siswa yang ingin memilih hidup mandiri setelah lulus akan diberikan pelajaran tambahan berupa pelajaran ketrampilan hidup mandiri (PPHM) selama 16 jam per Minggu. Siswa di kelas ini diberikan mata pelajaran ketrampilan berupa ketrampilan menjahit, bengkel, komputer, elektronik, mebeler bahkan ketrampilan membatik. Untuk melengkapi ketrampilan para siswa yang ingin mandiri tersebut MAYOGA kini telah memiliki fasilitas sanggar latihan kerja yang cukup lengkap.
Bahkan beberapa kegiatan ketrampilan siswa tersebut akhirnya menjadi unit-unit usaha yang produk-produknya diminati masyarakat sekitar, misalnya servis dan penjualan komputer, konveksi dan produksi mebel. ""Konsultan kami di bidang ketrampilan ini adalah para pengusaha yang telah sukses di bidangnya, misalnya konsultan mebel adalah salah satu eksportir mebel terbesar di Yogya sehingga insya Allah suatu saat MAYOGA juga akan melakukan ekspor mebel ini,"" kata Sukardi yakin. Sementara bagi siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi juga dibekali dengan pelajaran ketrampilan seperti itu, tetapi porsinya berbeda dengan yang tidak ingin melanjutkan.
Kurikulum ketrampilan yang diterapkan MAYOGA tersebut terbukti ampuh membekali siswa didiknya agar siap di dunia kerja setelah lulus. Buktinya tidak sedikit alumni MAYOGA yang kemudian bekerja di beberapa perusahaan baik di dalam negeri maupun luar negeri setelah lulus. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sekarang mendirikan usaha sendiri membuka industri mebel, bengkel maupun modiste.
Bukan hanya itu saja, akibat pemberlakuan kurikulum PPHM tersebut madrasah ini sekarang justru kewalahan menerima pesanan barang dari berbagai industri maupun untuk kebutuhan rumah tangga dari dalam maupun luar DIY. Baik itu pesanan jahitan baju seragam, pesanan batik, mebel maupun pesanan lainnya. Seluruh pesanan tersebut langsung dikerjakan oleh siswa usai sekolah. ""Jadi siswa yang mengikuti PPHM sering mendapat pesanan dari orang luar. Mereka kami gaji sesuai pesanan yang mereka terima. Tetapi itu dikerjakan di luar jam sekolah,"" tegas Fanani.
Sukardi mencontohkan satu siswinya, Sitti, siswi kelas tiga PPHM IPS. Sembari sekolah, ia menerima menerima pesanan seragam sebuah sekolah. Untuk memudahkan kerja, Sitti mendapat bantuan pembelian mesin dari sekolah dengan mengangsur Rp 57 ribu selama delapan bulan.
MAYOGA juga menerapkan model pembelajaran aktif (active learning). Siswa tidak hanya mendengarkan guru berceramah tentang mata pelajaran, tetapi dilibatkan dalam berbagai diskusi, studi literatur perpustakaan, presentasi, berorasi, berdebat bahkan studi lapangan. ""Sering para guru memberikan mata pelajaran tidak di kelas tetapi justru di perpustakaan, gazebo, di taman bahkan di aula maupun di kafe, ""ujar Sukardi. Hal itu dilakukan para guru MAYOGA agar terjadi hubungan yang lebih baik antara guru dengan siswa. Selain itu mata pelajaran yang diberikan tersebut bisa lebih dimengerti oleh siswa secara santai tapi serius.
Untuk itulah pihak sekolah jauh-jauh hari telah menciptakan suasana yang nyaman bagi pembelajaran di lingkungan sekolah itu. Pojok-pojok dan halaman sekolah telah disulap menjadi taman dan gazebo yang nyaman untuk belajar. Bahkan di sudut sekolah dibuat sebuah kafe yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk belajar dan berdiskusi.Bukan hanya itu saja, aula yang ada pun telah diubah menjadi aula yang nyaman bagi iklim pembelajaran.
Hal lain yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang aktif adalah mengubah kelas menjadi tempat berdiskusi yang mengasyikkan. Hal itu dilakukan dengan meniadakan meja di setiap kelas, sehingga sistem pembelajaran di setiap kelas di madrasah tersebut seperti layaknya sistem perkuliahan di perguruan tinggi. ""Untuk mengkondisikan pembelajaran, kelas-kelas yang ada kita buat jumlah siswanya kecil-kecil, yaitu sekitar 30 orang saja, ""lanjut Sukardi.
Peningkatan kwalitas dan kesejahteraan gurunya pun diperhatikan. Untuk meningkatkan mutu tenaga pengajar dan karyawan, madrasah yang memiliki siswa 600 orang ini setiap tahunnya mengirimkan staff pengajarnya untuk melanjutkan kuliah strata II di beberapa perguruan tinggi atas biaya sekolah. Sekolah juga memberi bantuan separo bagi guru yang hendak menunaikan ibadah haji. ""Dalam 15 tahun mendatang diharapkan semua guru di sini sudah menunaikan ibadah haji dan gelar akademik S2, ""kata Sukardi yang ketika pada November 1999 ditugaskan untuk memimpin MAYOGA sempat didemonstrasi oleh siswa dan orangtua murid MAN Pakem agar tetap menjadi kepala sekolah di sana.
Setiap minggu MAYOGA juga mewajibkan staf pengajarnya mengikti pelatihan khusus di madrasah tersebut. Pelatihan itu sendiri dilakukan oleh MAYOGA bekerjasama dengan beberapa lembaga pelatihan di Yogya. Pelatihan tersebut bukab hanya dilakukan pada hari-hari aktif belajar saja, tetapi pada hari libur para guru MAYOGA juga diwajibkan mengikuti pelatihan serta lokakarya khusus liburan.
Ternyata bukan sebatas itu saja yang dilakukan untuk mempertahankan predikat sebagai sekolah percontohan. Dalam sarana dan prasarana belajar mengajar pun, usaha madrasah ini patut diacungi jempol. Bukan hanya usaha mengubah setiap sudut sekolah menjadi tempat belajar mengajar yang nyaman, tetapi sarana lain yang diberikan Madrasah ini juga cukup bagus. Contohnya saja, kelengkapan buku di perpustakaan MAYOGA. Tak seperti sekolah pada umumnya, ruang terdepan di Madrasah Aliyah Negeri 3 Yogyakarta (Mayoga) bukan ruang kepala sekolah, melainkan perpustakaan. Di ruang berukuran 164 meter persegi ini, terpajang rapi 6.000-an judul buku. Mereka juga berlangganan 12 macam media cetak. Buku-buku itu terbagi dalam dua ruang, yaitu ruang koleksi buku, dan ruang referensi.
Di kedua ruangan tersebut para siswa bisa membaca buku dengan nyaman karena ruangannya ber-AC dan cukup luas. Bahkan di ruang referensi yang memuat sekitar 40-50 orang, siswa bisa duduk lesehan sambil menikmati siaran televisi/video dan membaca. Di sini pada hari-hari tertentu diputar video film yang mengandung unsur pendidikan, akhlak, Islam, dll. ""Ruang kepala sekolah tidak ber-AC, tapi ruang perpustakaan harus ber-AC, biar siswa betah di perpustakaan sehingga minat baca mereka tinggi, ""ujar Sukardi. Dari pukul 07.00 hingga 17.00, perpustakaan tak pernah sepi pengunjung.
Menurut Sukardi, perpustakaan menjadi jantung pembelajaran di sekolah ini. ""Guru di sini didorong untuk melakasanakan pembelajaran aktif di perpustakaan dengan studi literatur, yaitu setiap memberikan tugas kepada siswa, siswa harus mencari jawabannya yang ada di perpustakaan, ""tambahnya.
Dengan fasilitas dan model pembelajaran seperti itu tak heran jika kemudian siswa MAYOGA terus menyumbangkan berbagai prestasi setiap tahunnya. Sepanjang tahun 2002 lalu siswa MAYOGA berhasil menyabet 78 trophy dari berbagai kejuaraan di tingkat regional maupun nasional.
Siapkan Pondok Pesantren Untuk SiswaAgar lulusan MAYOGA bukan hanya berkualitas dalam bidang intelektual dan ketrampilan, tetapi juga berkualitas dalam bidang agama, jauh-jauh hari Drs H Sukardi telah mempersiapkan sebuah langkah jitu mewujudkan hal tersebut. Langkah itu adalah pendirian sebuah pondok pesantren di wilayah Sleman DIY. Pondok pesantren yang diberi nama Al-Ihsan sengaja didirikan agar menjadi sebuah lembaga pembelajaran yang sinergis dengan MAYOGA. Direktur ponpes itu nantinya adalah Sukardi. ""Tahun besok saya sudah pensiun. Agar tetap bisa ikut andil dalam pembelajaran di madrasah maka saya dirikan pondok pesantern itu, ""kata Sukardi, pria kelahiran 11 Februari 1944.
Ponpes yang didirikan putra seorang pembantu keluarga Belanda ini nantinya akan digunakan oleh siswa yang berasal dari luar DIY. Sehingga pada pagi harinya siswa diharapkan belajar di MAYOGA sedangkan pada malam harinya belajar di Ponpes.
Untuk menunjang kegiatan tersebut guru yang mengaku lahir dari keluarga paling miskin di Pandowoharjo Sleman ini akan mengusahakan adanya bus sekolah dari Ponpes ke sekolah.
MAYOGA, kata Sukardi, mempunyai visi mendidik siswa agar menjadi ULTRA PRIMA (unggul, terampil dan berkepribadian matang). Karena itu untuk mencapai visinya maka ada berbagai upaya yang dilakukan seperti setiap hari Rabu diadakan pelatihan untuk para guru di MAN dengan pelatihan dari luar, sesuai dengan masing-masing bidang, menggunakan konsep manajemen modern. ""Tahap selanjutnya, kami akan membekali para guru dan siswa di bidang teknlogi informasi, diantaranya berupa digitalisasi materi pelajaran dan pembuatan e-library (perpustakaan berbasis internet),"" kata Sukardi optimis. Semoga.
sumber: http://www.mayoga.net/seputar-mayoga/2-man-yogyakarta-iii-sekolah-unggulan-yang-penuh-inovasi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar